header niko 728 x 90

Kamis, 23 April 2015

MENTAL RAJA VS MENTAL KULI

Hari ini 23 April 2015, ada perbincangan hangat di BPSK Kota Bekasi. Keanggotaan BPSK (Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen) terdiri dari 3 Unsur yaitu Unsur Pemerintah, unsur Pelaku Usaha, dan unsur Konsumen [penulis dr unsur Konsumen). Rata-rata anggota BPSK ada lulusan fakultas hukum dan beberapa berprofesi sebagai Pengacara, PNS bidang hukum dsb. Sehingga mereka sangat tahu tentang perilaku dan mental para pekerja negara tersebut.
Nah, diskusi kali ini topiknya menyerempet tentang "mental dan prilaku" para punggawa alias penguasa dan pegawai negeri ini. Seorang anggota BPSK sebut aja namanya Togi, mengeluhkan Prilaku para PNS, yang kebanyakan kurang disiplin, kerja malas tapi hasil atau uang pengen dapat gede. Terutama PNS lama yg diterima sebelum pejabat walikota saat ini. Katanya sih.... Kurang punya mental pengabdian apalagi melayani dan mengayomi masyarakat. Menurutnya krn sistem rekruting PNS selama ini yg byk salahnya. Kebanyakan krn Nepotisme dan Uang. Meskipun sulit diungkap tapi sdh rahasia umum bukan? Lihat aja seorang pejabat PNS, segera saja anaknya, bininya, ponakan dan sudara2 lainnya menjadi PNS, menyebar dimana2.
Menanggapi statement tsb, seorang teman (sebut saja namanya Alexis, hehehe kayak pemain bola) diskusi menanggapi. Memang di NKRI ini banyak pejabat dan PNS bermental "raja", maunya dilayani, hanya ongkang2 kaki tapi dapat duit. Lihat seperti di jawa sana, kalau orang menghadap raja harus tunduk dan berjalan dg dengkul. Kalau di daerah Bandung, bila rakyat biasa bicara dg kaum priyayi, muka tdk bisa menghadap langsung, harus agak serong, yg di tunjukkan pipi. Dan banyak sikap raja yg petantang-petenteng. Benci kita melihat tingkah mereka.
Pernyataan Pak Alexis tsb sedikit saya kritik dan sekaligus saya sangkal dg tujuan spy mendapat perbaikan makna. Sikap org yg demikian bukanlah sikap seorang Raja, tapi sikap seorang ^kuli^.
Sikap seorang Raja bukanlah demikian, lihatlah Raja Swedia, Raja Spanyol, Raja Brunei, Raja Inggris dg istilah persemakmurannya. Raja-raja tersebut kaya tapi rakyatnya makmur dan sentosa. Mereka bekerja keras utk rakyatnya, mengayomi dan membimbing sehingga penuh disiplin dan dedikasi. Demikianlah mental seorang Raja. Mulia dan bersahaja.
Bagaimana dengan para punggawa negeri ini, kebanyakan hanya memikirkan dan bertindak utk diri sendiri, keluarga atau kalau pun ada hanya golongannya saja. Akhirnya banyak yg diributin, hidup nya sering galau, bahkan tdk jarang berakhir di bui. Demikianlah mental seorang Raja???!!! Tentu bukan. Bila ada kaum priyayi atau raja-raja di jawa sana yg petantang-petenteng karena mereka "hy merasa sbg raja" realnya saat ini mereka tdk apa2nya, bukan raja, tdk ada lagi pengakuan resmi dari negara dan masyarakat, bukan?!. Semua sdh sama hak dan kewajiban, kecuali Yogya yang punya hak Daerah Istimewa.
Jadi ke depan, kita harus sebut bagi pegawai, punggawa, pejabat atau siapapun yg mentalnya bobrok, malas, kerja seenaknya, tukang korupsi, kolusi dan berbagai mental dan perilaku buruk lainnya, mari kita panggil orang yang bermental kuli, pecundang kere. Semua teman diskusi menyetujui dan menyepakati.
Bagaimana dg para orang baik PNS atau pejabat lainnya yg punya dedikasi, full pengabdian, mengutamakan kesejahteraan rakyat, melayani dan mengayomi sepenuh hati, kita panggillah dia RAJA. Sepakaaaat. Teriak teman-teman. Mudah-mudahan hal ini bisa berpengaruh positif, meskipun hanya sedikiiiit, tapi kita tetap positif thinking. Semoga. Tetap semangat dan salam sukses luarbiasa! #fs#