header niko 728 x 90

Minggu, 07 Februari 2016

EMOSI DAN NEGOSIASI

Pagi subuh, ketika semua bersiap-siap hendak sekolah dan bekerja, Lithania yang sedang berjalan ke dapur hendak menyimpan piring dan gelas bekas sarapannya, tergelincir dan jatuh. Dia menjerit dan kelihatan pelipisnya berdarah. Sepertinya pelipisnya sobek beberapa centimeter. Dia berpegangan erat ke sudut meja. Melihat situasi semua panik dan berteriak supaya di lekas berdiri. Akan tetapi Litahnia tetap duduk berpegangan erat ke daun meja. Abang, mamanya dan kakanya teriak dan sedikit emosi, supaya segera berdiri dan supaya dibawa ke dokter, karena lukanya lebar jadi harus ditangani dokter, meski dijahit beberapa jahitan. Mendengar itu Lithania semakin takut dan duduk berpegangan erat ke daun meja. Ayahnya yang melihat itu, segera mendekat. Pengalaman dan pelajaran yang pernah di dapatkan tentang negosiasi. Dia mendekati anaknya dan bertanya, "apakah papa sayang dengan Tania?". Anaknya memandang papanya dengan lembut dan berujar "ya".



Kemudian papanya melanjutkan:"apakah papa senang kamu tersakiti?" tanyanya. Lithania menjawab,"tidak", sambil menggeleng. "Ketika badan kita ada yang sakit, kemudian di obati, apakah sakitnya bertambah parah atau segera sembuh secara berangsur" papanya sedikit menjelaskan. "Ia pak, tapi aku takut, nanti semakin sakit" rengek Lithania. Dengan sabar ayahnya menyampaikan,"lihat kaki papa, ada bekas jahitan, tangan mama ada juga bekas luka yang sudah sembuh. Nah, nantinya, pelipismu hanya bekas jahitan aja yang tersisa, tapi tidak ada rasa sakit sedikit pun" papanya menjelaskan untuk mengurangi rasa trauma anaknya. Lithania akhirnya mengerti, segera berdiri dan berjalan menuju mobil, kemudian berujar, "cepat pak, darahnya semakin banyak" seraya memegangi pelipisnya yang berdarah sambil menutup dengan sapu tangan yang diberikan ayahnya. Kemdian mereka berangkat menuju rumah sakit.



Ayah Lithania menyampaikan yang menyentuh perasaan untuk menenangkan perasaan yang mendengar sekaligus segera berpikir masa depan yang lebih nyaman. Dengan demikian, maka tanpa bertele-tele dan ada alasan lain lagi, perkataannya di turuti dengan senang hati bahkan antusias. 
Emosi adalah musuh negosiasi, karena mereka umumnya sulit mendengarkan bahkan cenderung menyakiti diri dan dengan sendirinya tidak pernah mencapai tujuannya. Sudah banyak contoh yang kita lihat, baik melalui film atau kenyataan dimana yang melibatkan emosi dalam membuat keputusan dan solusi, kebanyakan hasilnya konyol, bahakan emosi dengan mudah dikalahkan oleh orang yang mengedepankan rasional dalam pengambilan keputusan. YFS