Bendera Kuning Pendidikan Nasional
Kepedulian terhadap pendidikan memang layak diapresiasi tinggi. Kita sudah melihat bagaimana kemiskinan, kebodohan dan kriminalitas dilahirkan akibat terpinggirkan kualitas pendidikan. Lemahnya pengawasan (control) terhadap dunia pendidikan berbanding lurus kehancuran suatu bangsa.
Tepat rasanya kita mengambil teladan dari bangsa Jepang. Pasca kekalahan telak Perang Dunia, Jepang secepatnya membenahi dunia pendidikan. Secara massif pemerintah Jepang meningkatkan kualitas guru dan melakukan ekspansi besar – besar penerjemahan buku. Sehingga pelan terjadi kebangkitan pendidikan, ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat Jepang.
Indonesia sebagai sebuah bangsa sendiri tidak sepantasnya tertinggal dari Jepang. Sebab pendidikan Indonesia mengandung banyak potensi keunggulan seperti sudah dilegalkan konstitusi, jumlah penduduk yang melimpah dan menjamurnya universitas. Mengutip Paulo Freire “ pendidikan adalah alat mencerdaskan manusia” Jadi misi mencerdaskan kehidupan bangsa seharusnya dapat dilaksanakan.
Ironisnya dalam percaturan pendidikan dunia, kualitas pendidikan Indonesia masih tertinggal jauh. Berdasarkan data Global Competitive Country, pendidikan Indonesia menempati peringkat 50 dunia. Tertinggal jauh dari Malaysia (peringkat 26) dan Thailand (peringkat 30).
Dalam kesempatan lain, UNESCO dalam Education Development Index menyatakan bahwa, tingkat perkembangan pendidikan Indonesia terletak pada peringkat 102 dunia. Tidak kalah mengerikan, bebas buta aksara masyarakat indonesia berada pada peringkat 95 sebesar 87,9%.
Kenyataan itu tentu meninggalkan keprihatinan mendalam, sebab pemerintah masih kurang serius membenahi dunia pendidikan nasional. Malaysia dulu banyak mengirimkan pelajar ke Indonesia agar pembangunan Malaysia meningkat. Kondisi sekarang terbalik, banyak pelajar Indonesia justru bangga belajar di Malaysia.
Selain faktor lemahnya daya saing, kelemahan politik anggaran pendidikan dituding mengakibatkan kegagalan pendidikan Indonesia. Amanat konstitusi agar pemerintah memberikan suplai 20% anggaran negara tidak pernah tercapai. Konsekuensinya, pendidikan menjadi mahal dan hanya dapat dinikmati kalangan mampu.
Repotnya, pemerintah tidak mau sadar diri dan bertindak angkuh. Presiden SBY misalnya mengatakan sudah memenuhi 20% anggaran pendidikan. Salah satunya menaikkan gaji guru dalam mata anggaran pendidikan nasional. Kalangan eksekutif berharap, kenaikan gaji meningkatkan kualitas pengajaran dan membungkam suara kritis kaum Oemar Bakri.
Tapi fakta lapangan membuktikan lain. Kesuksesan menaikkan kesejahteraan guru akhir – akhir ini menjadi bumerang. Sebab pencairan gaji guru berjalan terlambat akibat tarik menarik kepentingan penguasa. Tidak heran, banyak organisasi profesi guru memprotes penundaan gaji. Sekali lagi, pemerintah melanggar janjinya dan kebijakan yang dilahirkan hanya politik citra.
Kebijakan pendidikan setengah hati menandakan matinya nurani penguasa. Tidak heran, wajah pendidikan Indonesia semakin buram. Guru hanya dieksploitasi julukan manis pahlawan tanda tanda jasa. Ironis jasanya tidak terbayar, kesejahteraanya terus dirampas.
Berbagai program pendidikan yang sudah digulirkan pemerintah, secara teori sangat bagus dan tujuannya sangat menjanjikan perubahan yg lebih baik. Akan tetapi kenyataannya, saat ini sepertinya apa yang hendak dituju itu masih jauh dari harapan. Sepertinya semuanya masih jalan ditempat. banyak kemajuan yang sudah diperoleh dibeberapa sisi, tapi belum juga menyentuh secara substansial keadaan bangsa. Mudah-mudahan ini masih opini penulis semata, pada kenyataannya, kondisi sudah lebih bagus, ya tidak masalah, justru akan lebih bagus.
Mari berbuat lebih baik lagi terhadap bangsa kita, jauhkan pendidikan dari pengaruh negatif, bersihkan pendidikan dari korupsi. Jadilah "Dunia Pendidikan Indonesia" menjadi Pembawa Perubahan, Pemacu Kemajuan, Benteng Moral bangsa, Sumber Pengetahuan Orisinil, Percetakan Manusia yang seutuhnya (cukup idealis bukan, semoga - salam fs)