header niko 728 x 90

Minggu, 14 Desember 2014

Hai bung (Tommy Suharto), datanglah sebagai Pelaut

Cerita ini saya peroleh sekitar akhir tahun lalu, yang diceritakan paman yg 20 tahun lalu telah pensiun dari seorang pelaut, tepatnya sbg kapten kapal laut. Ketika itu, kapal yg dinakhodai oleh paman sedang berlabuh tdk jauh dari pabrik peleburan timah di Pulau Bangka, yang ada di sisi utara pulau sumatera. Ada sekoci berpenumpang sekitar 4 orang mendekati Kapal laut paman. Ketika sdh merapat dan naik ke kapal, penghuni sekoci yg baru tiba meminta bantuan berupa bbm dan akomodasi lainnya. Permintaan ini sebenarnya, menurut paman sebagai seorang pelaut soal biasa saja. Hanya saja, org yg meminta bantuan tersebut sangat arogan dan sedikit congkak. Kalimatnya kira-kira demikian. "Pak Kapten, kami suruhan dari Bos kami, yg berada di kapal yg sedang buang sauh tdk jauh dari sini. Bos kami putra istana, jgn coba-coba menolak permintaan kami. Jadi atas Nama Istana Negara Republik Indonesia, kami perintahkan kapten supaya menyerahkan segera permintaan kami". Kurang lebih, kita-kita demikian perintah orang dari sekoci tersebut dg lantang, keras dan terkesan sangat arogan, dgn mengatasnamakan istana negara.
Mendengar perintah tersebut, paman bukan malah menurut, tapi malah tersinggung. Dalam pemikirannya, apa pula istana negara dibawa-bawa hanya sekedar minta bantuan sekian banyak bbm dan akomodasi. Sebagai seorang pelaut, jiwa penolong dan membantu sdh soal biasa. Bahkan sdh menjadi suatu keharusan atau semacam kewajiban yg terpelihara di benak para pelaut selama ini. Kemudian permintaan yg lebih tepat sebagai perintah yg arogan tersebut ditolak mentah-mentah oleh paman. Dia menyampaikan kepada utusan tsb "bila memang komandan mu atau bos mu itu seorang pelaut, hendaknya dia datang meminta sebagai seorang pelaut. Dilaut ini tdk ada istana negara. Pergi! Jangan paksa saya bertindak kasar ".
Mendengar respon yg penuh emosional dan penolakan yg kuat tsb, para suruhan tsb terpaksa balik arah, kembali ke kapal induknya. Mereka tertunduk malu, meskipun sdh dilakukan berbagai macam cara, tapi krn sdh terlanjur tersinggung, hasilnya tetap nihil.
Setelah berbalik arah, beberapa saat kemudian, sekoci tersebut kembali lagi mendatangi kapal paman. Dengan gagah berani, paman menyongsong mereka. Seorang laki-laki yg mereka sebut sebagai "bos" dg keras dan arogan, segera berteriak kepada paman. "Apakah anda tdk tau, bahwa saya putra presidennya. Jadi saya perintahkan atas nama istana negara, segera berikan yg diminta oleh anak buah saya". Mendengar perintah tsb, nyali paman bukannya surut dan nurut, malah menolak mentah-mentah. "Mohon maaf, dilaut ini tdk ada istana negara. Bila anda seorang pelaut, datanglah dan sampaikan lah sebagai seorang PELAUT".
Mendengar hal tersebut, orang tersebut malah berupaya naik ke atas dek kapal paman. Ketika sdh dekat sekitar 5 langkah orang dewasa jarak mereka, kemudian orang tersebut dengan nada suara yg menurun seraya membuat gerakan menghormat menyampaikan. "Baiklah kapten, sebagai seorang pelaut, saya dan rombongan memohon pertolongan". Kemudian, melihat situasi yg sdh kondusif, sgr paman persuasif dan memerintahkan ABK nya utk menyiapkan semua permintaan dr orang tersebut. Kemudian mereka berbicara sebentar, seraya orang tersebut mengenalkan dirinya, bernama Tommy Suharto, putra bungsu presiden RI pada saat itu. *YFS#.